Friday, October 13, 2017

POLA GAYA BELAJAR MATEMATIKA DI ERA ABAD 21

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendali diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pendidikan sebagai proses awal manusia untuk mengenal tentang segala sesuatu yang ada dalam kehidupan. Melalui pendidikan, diharapkan akan tercipta insan yang berbudi luhur dan berakhlak mulia serta mempunyai tingkat pengetahuan yang mumpuni dalam kehidupan dan berguna bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pendidikan yang dilaksanakan di sekolah berlangsung secara formal. Di dalamnya memuat berbagai macam unsur dalam pendidikan, meliputi pendidik, peserta didik, sarana dan prasarana, kurikulum, pembelajaran, dan lain-lain. Salah satunya adalah berupa mata pelajaran matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai ciri khas yang unik dan sangat menantang. Hal ini didasari atas penyelesaian soal yang berkaitan dengan matematika bisa dilalui dengan berbagai macam cara. Hal ini membutuhkan semangat kreativitas sehingga dapat membangun diri peserta didik menjadi insan yang kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Dalam pembelajaran matematika, seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi yang dilanjutkan dengan pemberian latihan dan berakhir pada tes. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru untuk menciptakan suatu pembelajaran yang efektif. Dalam teori belajar yang dikemukakan oleh Jerome S. Brunner, bahwa belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematikanya (dalam Hudoyo:1990). Dalam pembelajaran matematika, hendaknya pembelajaran diawali dengan pengenalan masalah (contextual problem). Kemudian secara bertahap dengan bimbingan guru, peserta didik akan menguasai konsep matematika sesuai dengan materi pembelajarannya. Untuk meningkatkan efektifitas dalam pembelajarannya, sekolah diharapkan menyediakan serta menggunakan teknologi informasi dan komunikasi baik berupa komputer, jaringan internet, media pembelajaran/alat peraga, atau media yang lainnya. Hal ini didasarkan pada teorinya yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses aktif pada diri peserta didik untuk mendapatkan informasi atau menemukan suatu hal baru yang berasal dari luar. Dengan demikian, peserta didik mampu menghubungkan antara ilmu yang diperolehnya dengan hal baru yang berada di lingkungan sekitar.
Dalam Hendi Suhendi (2017), Teori Brunner yang lain juga mengungkapkan bahwa ada tiga macam proses kognitif dalam belajar. Pertama, proses perolehan informasi baru, melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan materi yang diajarkan oleh guru, mendengarkan audiovisual, dan lain-lain. Kedua, proses mentransformasikan informasi yang diterima, yakni bahwa pengetahuan yang diterima oleh peserta didik agar sesuai dengan kebutuhan. Pengetahuan yang diterima akan dianalisis, diproses, dan diubah menjadi sebuah konsep yang lebih nyata atau abstrak sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Hal ini untuk membuktikan sejauhmana informasi yang telah diterima bermanfaat bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak pelaksanaan pembelajaran yang masih belum sesuai dengan seperti teori yang sudah dijelaskan. Bahkan masih jauh dari kata mengarah pada pembelajaran abad 21. Pertama, pembelajaran masih konvensional. Pembelajaran hanya masih berkutat pada mencatat, diterangkan, mengerjakan latihan, dan mengerjakan tes. Hal ini terlihat membosankan sehingga peserta didik hanya duduk diam manis dan mendengarkan. Keaktifan peserta didik juga berkurang. Kedua, guru jarang menggunakan alat peraga. Hal ini terlihat dari pembelajaran yang hanya sekedar menerangkan materi yang disampaikan oleh guru. Materi disampaikan secara vokal saja. Padahal hakikatnya alat peraga sebagai media untuk mengkonversi konsep yang berupa abstrak menjadi hal yang bersifat konkret sehingga memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Ketiga, pembelajaran monoton. Guru sering hanya menyampaikan materi dengan metode ceramah saja dan tanya jawab. Padahal semestinya ceramah dan tanya jawab bukan sebuah metode, karena dalam pembelajaran pasti ada ceramah dan tanya jawab. Pembelajaran monoton inilah yang menyebabkan peserta didik cepat merasa bosan dalam pembelajaran, bahkan muncul anggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang paling sulit. Padahal munculnya animo tersebut karena pembelajaran yang kurang sesuai dengan karakter pembelajaran matematika. Keempat, pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered learning). Pembelajaran yang seperti sebenarnya ada kelebihannya, namun lebih banyak kekurangannya sehingga menjadikan pembelajaran yang seperti ini kurang tepat untuk diterapkan di pembelajaran abad 21. Pada pelaksanaannya, pembelajaran seperti ini menjadikan peserta didik bersikap pasif dalam pembelajaran. Karena pusat dari segala sumber ilmu berasal dari guru. Peserta didik hanya duduk diam manis menerima segala materi yang disampaikan oleh guru. Dengan menjadikan guru sebagai pusat pembelajaran, maka peserta didik akan kurang dalam berkreasi dan beraktifitas mengembangkan segala bakat dan minatnya karena segalanya sudah diatur oleh guru. Peserta didik hanya bisa mengikuti semua aturan dan arahan yang dirancang oleh guru. Kelima, guru sebagai subjek belajar dan peserta didik sebagai objek belajar. Dalam pembelajaran seharusnya peserta didik menjadi subjek belajar. Hal ini sebagai langkah untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Dengan penerapan peserta didik sebagai objek belajar, maka menjadikan peserta didik sebagai objek yang hanya diisi materi pelajaran tanpa diberi kesempatan untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengembangkan bakat dan minat. Adanya peserta didik sebagai objek belajar sebagai imbas dari pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered learning).
Melihat kenyataan yang terjadi di lapangan, menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah terutama pembelajaran matematika masih jauh dari yang diharapkan dalam kurikulum, yakni pembelajaran yang mengarah abad 21. Hal ini sebagai langkah untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin maju dan kompetitif. Lalu, bagaimana langkah yang harus dilakukan untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran matematika agar mengarah pada pembelajaran abad 21? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita mengenal bagaimana pembelajaran abad 21. Dalam Aina Mulyana (2017) disebutkan bahwa pembelajaran abad 21 mencerminkan pada empat hal, yakni :
1.        Critical Thinking and Problem Solving
Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk berpikir kritis. Peserta didik sering bertanya dan mengeluarkan pendapat sebagai bentuk rasa ingin tahunya yang tinggi. Selain itu, peserta didik berusaha untuk memahami dan menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapinya secara mandiri melalui kemampuan untuk menyusun, mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan suatu masalah. Kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk mewujudkan terciptanya peserta didik yang mempunyai kemampuan seperti yang dimaksud maka diperlukan penerapan pendekatan saintifik, pembelajaran problem solving, pembelajaran discovery learning, dan pembelajaran berbasis projek.
2.        Creativity and Innovation
Peserta didik mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dan menyampaikan gagasan baru kepada orang lain, bersikap terbuka untuk menerima perubahan, saran, dan kritik serta responsif terhadap perspektif yang baru dan berbeda. Untuk mengembangkan karakter ini, seorang guru perlu membuka ruang dan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitasnya. Hal ini sebagai langkah untuk mengembangkan bakat dan minat peserta didik. Selain itu, budayakan apresiasi terhadap sekecil apapun peran dan prestasi peserta didik. Langkah ini bertujuan untuk memberi motivasi untuk meningkatkan prestasinya sehingga semangat untuk belajar semakin bertambah.
3.        Communication
Peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan suatu komunikasi yang efektif antar sesama baik dalam bentuk tulisan, lisan, dan multimedia. Peserta didik diberi kesempatan untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pendapatnya baik dalam diskusi kelompok maupun dalam berdiskusi dengan gurunya. Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik, baik komunikasi antara peserta didik dengan guru, maupun komunikasi antar sesama peserta didik.
4.        Collaboration
Peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerja sama secara berkelompok dan kepemimpinan, mampu beradaptasi dalam peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dalam kelompoknya, menghormati perspektif yang berbeda, serta bersikap empati terhadap sesama. Pembelajaran secara berkelompok melatih peserta didik melakukan kerja sama dan berkolaborasi dalam bekerja. Hal ini sebagai langkah untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego dan emosi sehingga tercipta suasana kebersamaan, rasa memiliki, bertanggung jawab, dan kepedulian antar sesama anggota.
Sumber lain mengatakan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik di abad 21, yaitu:
1.        Ways of Thinking
Kemampuan berfikir yang harus dimiliki dan dikuasai oleh peserta didik di abad 21 yaitu berfikir kritis, kreatif, pemecahan masalah, pembelajar, dan pengambilan keputusan.
2.        Ways of Working
Kemampuan yang harus dimiliki bagaimana cara bekerja dalam menghadapi abad 21 baik dengan dunia global maupun digital, yakni komunikasi dan kolaborasi. Di abad 21, seseorang harus mampu berkomunikasi dengan baik . Selain itu, manusia juga harus mampu untuk berkolaborasi dan bekerja sama baik secara individu maupun secara berkelompok dan jaringan.
3.        Tools for Working
Peserta didik harus mampu memiliki dan menguasai alat untuk bekerja, yakni penguasaan terhadap Information and Communications Technology (ICT) dan Information Literacy. Tanpa keduanya, seseorang akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan karirnya.
4.        Skills for Living in the Word
Peserta didik dituntut mampu dalam menjalani kehidupan di abad 21, yaitu: Citizenship (warga negara), Life and Career (kehidupan dan karir), dan Personal and Social Responsibility (tanggung jawab pribadi dan sosial).
Berkaitan dengan pembelajaran matematika, ada beberapa gaya belajar  yang harus diperhatikan oleh guru untuk mengarahkan pembelajarannya ke abad 21, yakni:
1.        Pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered learning)
Di abad 21, idealnya adalah peserta didik sebagai subjek belajar. Peserta didik mempunyai kebebasan untuk berekspresi dan berkreativitas. Selain itu juga peserta didik mempunyai kebebasan untuk bertanya secara kritis seerta mengungkapkan pendapat. Oleh karena itu, sebagai  pendidik harus mampu menyediakan kesempatan peserta didik untuk berkreasi dalam mengembangkan bakat dan minatnya. Dengan demikian peserta didik mampu untuk mengaktulisasikan dirinya dalam berkreasi sehingga ia mampu menemukan jati dirinya dengan baik.
2.        Pembelajaran menggunakan alat peraga yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik.
Pembelajaran matematika tidak hanya sekedar belajar tentang bilangan, melainkan belajar bagaimana mengkonkretkan konsep dalam matematika. Dalam artian, belajar matematika lebih mudah untuk dipahami ketika konsep abstrak diubah ke dalam bentuk konkret. Untuk merealisasikannya, seorang guru memerlukan alat peraga dalam pembelajaran. Alat peraga yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi. Selain itu, untuk lebih mengoptimalkan alat peraga sebaiknya alat peraga sudah berbasis ICT. Hal ini sebagai bentuk pengenalan ICT kepada peserta didik sehingga tidak gagap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.        Menggunakan model pembelajaran yang bervariasi.
Dalam Hanum Ranti (2017), ada beberapa model pembelajaran yang sudah bisa diterapkan dalam matematika terutama yang mengarah pada pembelajaran abad 21, yakni: pembelajaran Discovery Learning, pembelajaran Project Based Learning, pembelajaran Problem Based Learning, dan pembelajaran Inquiry Learning. Selain model pembelajaran di atas, masih banyak model pembelajaran lain yang masih bisa diadopsi dalam pembelajaran matematika. Dengan penggunaan model pembelajaran yang bervariasi, peserta didik akan merasa menyenangkan dan menghilangkan rasa bosan terhadap matematika.
4.        Pembelajaran memanfaatkan Information and Communications Technology (ICT).
Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang mampu mengkolaborasikan antara materi dengan alat peraga yang disertai dengan berbagai macam kegiatan yang menarik. Alat peraga akan mempunyai nilai tambah jika disertai dengan pemanfaatan Information and Communications Technology (ICT). Hal ini sebagai bentuk persiapan peserta didik dalam menghadapi era jaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di abad 21. Dengan pengenalan ICT pada peserta didik, ia mampu untuk bersaing di dunia luar dalam menghadapi persaingan global.
5.        Pembelajaran berlangsung secara kolaboratif.
Peserta didik diajari untuk bisa bekerja sama dan berkolaborasi dalam sebuah kelompok. penanaman sikap seperti ini untuk menumbuhkan insan yang berbudi luhur dan bijaksana agar mampu hidup dalam masyarakat sebagai orang yang berjiwa sosial. Hal ini sebagai bentuk mengenalkan pada peserta didik bahwa manusia hidup sebagai mahkluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Selain itu dengan adanya penanaman sikap berkolaboratif pada peserta didik, maka ia mampu untuk bekerjasama dan saling bahu membahu dalam berbagai hal walaupun dengan orang yang berbeda.
6.        Mengubah paradigma fungsi guru dalam pembelajaran.
Peran guru dalam pembelajaran di abad 21 yaitu: sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan, motivator, monitor, dan sebagai kawan belajar bagi peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan merasa bahwa ia memiliki kebebasan dalam berkreasi sehingga mampu mengembangkan bakat dan minatnya. Hal demikian sebagai cara untuk menghilangkan persepsi guru sebagai pusat dari segala sumber ilmu.
7.        Pembelajaran menggunakan kejadian dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik akan mampu menyerap materi lebih cepat ketika konsep matematika yang diajarkan oleh guru dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini lebih mudah bagi peserta didik daripada belajar tentang konsep tetapi ia sendiri tidak mengetahui apa hakikat dari konsep itu sendiri. Oleh karena itu, diharapkan guru mampu untuk membawa situasi pembelajaran seperti pada kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik mampu memahami apa yang disampaikan oleh guru.
Dari berbagai keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi era abad 21, sudah semestinya bahwa seorang guru harus mampu mengubah paradigma pembelajaran konvensionalnya, terutama pada pembelajaran matematika. Berhasil atau tidaknya dalam suatu pembelajaran ditentukan oleh manajemen guru. Oleh karena itu, diharapkan ada pola perubahan gaya pembelajaran dalam matematika. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi era kemajuan di abad 21 demi kemajuan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, sehingga peserta didik diharapkan mampu untuk bersaing di dunia luar.
REFERENSI
Mulyana, Aina. 2017. Pembelajaran Abad 21 dan Kurikulum 2013 (online)http://ainamulyana.blogspot.com/2017/03/pembelajaran-abad-21-dan-kuikulum-2013.html. diakses pada tanggal 10 Oktober 2017


Ranti, Hanum. 2017. Model-model Pembelajaran Matematika Kurikulum 2013 (online). https://hrinovatif2.wordpress.com/2015/03/23/pembelajaran-inovatif-i/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2017


Republik Indonesia. 2003. Undang-undang  Republik Indonesia Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara RI Tahun 2003 Nomor 4301. Sekretariat Negara. Jakarta.