Thursday, September 23, 2021

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran


1. Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Saya akan melakukan sosialisasi terhadap siswa, lingkungan, rekan sejawat. Saya juga akan melakukan sosialisasi melalui komuntas praktisi seperti pada kegiatan KKG. Saya kemudian mengajak guru untuk berdiskusi misalnya bertanya tentang masalah apa yang mereka hadapi kemudian menjelaskan cara pengambilan keputusan berdasarkan pembahasan materi modul 3.1.

2. Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Langkah yang pertama adalah memahami dan menentukan prinsip  dan paradigma dalam mengambil keputusan yang meliputi:

Berfikir berbasis hasil akhir/End Based Thinking

Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang . Berdasarkan pada aliran utilitarianism yaitu mengerjakan apa yang dapat menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak dan  berpusat pada konsekuensi. Contoh kasus Kapten Kapal yang mendorong beberapa penumpang yang dianggap lemah demi menyelamatkan banyak orang.

Berfikir berbasis peraturan /Rule Based Thinking

Ikuti prinsip atau aturan-aturan yang telah ditetapkan . Prinsip ini bertugas apa tugas kita, kewajiban apa yang harus kita lakukan, menghendaki orang lain mengikuti apa yang ia kerjakan. Contoh Anak tidak diijinkan keluar rumah dalam situasi apapun (Kasus Ani yang diminta untuk menjaga adiknya yang masih kecil dan tidak boleh keluar rumah, namun Ani mendengar ada suara rintihan minta tolong, ternyata ketika dilihat ternyata ada seorang anak kecil yang tersangkut air).

Berfikir berbasis rasa peduli/Care Based Thinking

Memutuskan sesuatu dengan memikirkan apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda. Prinsip ini selain memberi batasan pada tindakan kita namun mendukung kepedulian terhadap orang lain, Jika saya menjadi dia, apa yang harus saya lakukan. Prinsip ini dianggap terlalu sederhana. Contoh 2 orang sahabat yang mencotek, satu sama lain tidak mengadukan karena berharap sama.

Secara umum paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan berikut ini:

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain. Individu yang dimaksud tidak selalu berarti satu orang. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang (kelompok kecil) dan apa yang benar untuk yang lain (kelompok besar). Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

 

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihannya adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan. Pilihan untuk membengkokkan peraturan dibuat berdasarkan rasa kasihan. Misalnya Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena teman membutuhkan bantuan. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan. Apakah ada konsekuensi melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau  haruskah orang tua Anda membuat pengecualian?

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika.  Kadang kita perlu membuat pilihan antara berlaku jujur dan setia kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi atau komitmen yang dibuat sebelumnya. Pada jaman perang, tentara yang tertangkap harus memilih antara  mengatakan sebenarnya kepada pihak musuh atau setia kepada teman tentara yang lain. Hampir semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman yang  dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan. 

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini  paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Contoh, Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang.

 

3. Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Saya akan menerapkan langkah-langkah tersebut mulai hari ini, tepatnya tanggal 23 September 2021.

 

4. Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

Kepala Sekolah karena beliau sebagai sosok pemimpin kita sekaligus yang menjadi pembimbing dan penasihat dalam kegiatan di lingkungan sekolah. Selain itu, pengawas sekolah juga kita libatkan untuk melihat progres kita sejauhmana kualitas pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

0 comments:

Post a Comment