Wednesday, November 3, 2021

ARTIKEL AKSI NYATA 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


NILAI RAPOT SISWA MINIMAL KKM DAN TIDAK SESUAI KEMAMPUAN SISWA

  1. PERISTIWA (FACT)


Latar Belakang tentang Situasi yang Dihadapi


Di akhir tahun pembelajaran, sekolah biasanya akan menentukan kenaikan setelah dilaksanakan kegiatan PAT (penilaian akhir tahunan). Siswa melaksanakan evaluasi pembelajaran yang diperoleh selama satu tahun pembelajaran. Untuk menentukan kenaikan kelas, guru biasanya akan berpedoman pada KKM yang telah ditentukan sebelumnya di awal tahun pembelajaran. Guru sudah menentukan KKM berdasarkan kemampuan siswa dan aspek penentu lainnya dalam menentukan KKM. Namun, karena mengikuti kebijakan sebuah sistem dan agar terlihat bahwa sekolah mampu memberikan KKM yang tinggi maka berubahlah KKM dari penentuan awalnya.

Permasalahan utama terdapat pada kemampuan siswa yang belum bisa dikatakan tidak mampu untuk diterapkannya KKM yang terlalu tinggi. Ketika dipaksakan KKM yang tinggi, otomatis nilai siswa juga akan mengikuti KKM. Minimal nilai rapot sesuai KKM agar bisa naik kelas. Hal demikian akan menjadi masalah besar yang siswanya dengan kemampuan yang sedang, sehingga mau tidak mau guru harus mengatrol nilai siswa.

Tindakan katrol nilai jika diperhatikan secara seksama adalah sebuah ketidakjujuran dalam Pendidikan. Mengapa? Karena kita membuat laporan yang tidak sesuai dengan keadaan siswa. Bisa dikatakan sebagai pembodohan public. Hal ini berakibat pada menurunnya tingkat kejujuran guru, dan juga menurunkan semangat belajar siswa. Karena dengan kemampuan yang biasa saja, siswa bisa naik kelas dengan nilai yang lumayan bagus. Padahal faktanya nilai pengetahuannya sangat memprihatinkan.


Alasan Mengapa Melakukan Aksi Nyata Tersebut


Pada dasarnya kasus tersebut merupakan sebuah dilema etika yang sungguh luar biasa jika dilihat dari nilai kejujurannya. Namun, faktanya itu adalah hal biasa bagi pendidik karena hampir Sebagian besar mengalami hal serupa sehingga sebagai bentuk loyalitas guru pada kepala sekolah maka ia menuruti apa yang diinginkan pihak sekolah. 

Namun, pada hakikatnya sebuah permasalahan akan lebih baik diselesaikan dengan cara yang baik pula agar terlihat lebih professional dalam menjalani profesinya sebagai guru. Permasalahan nilai katrol untuk memenuhi KKM bisa diselesaikan dengan cara yang lebih unik dan menjadi win win solution bagi pihak-pihak yang berkaitan. Bagaimana caranya? Mari kita kaji untuk pengambilan keputusan yang lebih baik lagi.

  1. Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut? Loyalitas guru pada pimpinan (KS) dan kejujuran

  2. Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ? kepala sekolah, guru, dan pengawas

  3. Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ? kepala sekolah menentukan KKM sesuai arahan dari pengawas sekolah, KKM terlalu tinggi sedangkan kemampuan siswa tergolong rendah, guru dipaksakan agar memberi nilai rapot minimal KKM bagi siswa yg berkemampuan rendah padahal KKM juga terlalu tinggi bagi siswa.

  4. Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut.

  • Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji lega) 

Tidak ada aspek pelanggaran hukum

  • Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi)

Ada, yakni ketidakjujuran dalam penilaian

  • Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi)

Tidak ada

  • Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah anda merasa nyaman?

Ada yang tidak merasa nyaman terkait dengan nilai kejujuran.

  • Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

Akan memberikan nilai sesuai KKM, sesuai dengan arahan/himbauan dari KS dan pengawas

  1. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut?

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

  1. Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai?

Berpikir berbasis peraturan (rule based thinking)

  1. Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?

Siswa akan diberikan remidi dengan soal yang berkategori yang rendah, dan jika memungkinkan memberikan penilaian sesuai kemampuan siswa sehingga ia mencapai KKM.

  1. Apa keputusan yang akan Anda ambil?

Guru akan memberikan nilai sesuai KKM sebagai bentuk loyalitas guru pada kepala sekolah sekaligus melaksanakan tupoksi sebagai guru dalam pembelajaran

  1. Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan!

Guru memang harus memberikan nilai minimal KKM pada rapot murid. Jika hal itu tidak dilakukan, artinya ada yang keliru dalam penilaian. Mengenai KKM yang terlalu tinggi untuk diterapkan di sekolah, itu adalah kebijakan pimpinan sekolah yang harus ditaati guru dan itu merupakan tuntutan/instruksi dari pengawas sekolah.



Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

Guru melakukan pengambilan keputusan melalui 9 langkah sebagai pemimpin pembelajaran. Adapun keputusan akhirnya adalah memberikan nilai rapot pada siswa minimal KKM terutama bagi siswa yang berkemampuan rendah dan naik kelas.


A group of people in a room

Description automatically generated with medium confidence A picture containing indoor, person, laying, bedroom

Description automatically generated

Pembelajaran dan pemberian tugas (remidi) Ketika sebelum pandemic dan masa pandemi


  1. PERASAAN (FEELINGS)


Perasaan saya Ketika mengambil keputusan demikian memang sedikit kurang menerima. Namun, melalui beberapa riset dan masukan dari beberapa rekan sejawat akhirnya menerima keputusan tersebut dengan baik dan ikhlas. Seiring berjalannya waktu, saya merasakan kenyamanan dalam penilaian dengan pemberian remidi yang memudahkan membantu bagi siswa.


  1. PEMBELAJARAN (FINDINGS)


Pembelajaran yang bisa didapat pada kegiatan ini, bahwa dalam memutuskan sebuah keputusan yang optimal memerlukan pertimbangan yang mendetail melalui 9 langkah pengambilan keputusan agar tidak merugikan salah satu pihak. Win win solution perlu dikedepankan dan tidak menggunakan perasaan saja, namun akal pikiran sehat juga diperlukan untuk mendapatkan keputusan yang luar biasa.

Loyalitas sangat baik dikedepankan, namun juga kejujuran perlu dipertimbangkan. Agar keduanya dilaksanakan, alangkah baiknya cari alternatif lain agar mampu dilaksanakan Bersama.


  1. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)


Kedepan bahwa dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin harus mengutamakan 9 langkah dalam memutuskannya. Perhatikan dan cermati dengan baik setiap permasalahan, lakukan uji coba melalui 9 langkah agar mendapatkan hasil keputusan yang baik bagi semua pihak terkait, atau win win solution.


Nurohim, S.Pd.SD

CGP Angkatan 2 Kab. Brebes


Monday, November 1, 2021

AKSI NYATA MODUL 3.3

 


SDBS

SEKOLAH DASAR BERSIH SEHAT

NUROHIM - SDN KALIWLINGI 02

PERISTIWA (FACT)

Latar Belakang Tentang Situasi yang Dihadapi

Kebersihan dan kesahatan lingkungan sekolah merupakan permasalahan klasik yang masih sering dijumpai di berbagai sekolah. Hampir Sebagian besar sekolah mengalami masalah pada kebersihan dan Kesehatan lingkungan sekolah. Penyebabnya pun beraneka ragam, dari kurangnya sarana prasarana kebersihan sampai pada kurangnnya kepedulian dalam kebersihan. Namun, jika diperhatikan dengan seksama bahwa permasalahan kebersihan dan Kesehatan lingkungan sekolah pada dasarnya dapat diselesaikan dengan memaksimalkan asset yang dimiliki oleh sekolah. Oleh karena itu, pada aksi nyata ini kami akan mengangkat tema kebersihan dan kebersihan lingkungan sekolah menjadi sebuah program sekolah sekligus sebagai program guru penggerak dengan nama program SDBS (Sekolah Dasar Bersih Sehat).

 


Gambar 1 Kondisi sekolah yang kumuh

 

Hal yang Dilakukan pada Aksi Nyata Beserta Alasannya

Ada beberapa poin penting yang dilakukan dalam pelaksanaan Program Sekolah Dasar Bersih Sehat (SDBS), antara lain:

1.    Pengecekan kebersihan kelas yang dilakukan oleh guru kelasnya, baik sebelum pembelajaran maupun sesudah pembelajaran.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan. Dengan terjaganya kebersihan kelas, maka siswa dapat belajar tanpa terganggu dengan masalah sampah. Salah satu caranya dengan menghilangkan jadwal piket kelas. Mengapa? Karena justru dengan adanya jadwal piket kelas, maka siswa akan terpaku pada satu hari tertentu saja dalam membersihkan kelas. Akan tetapi dengan dihilangkannya jadwal piket kelas, maka kebersihan kelas akan menjadi tanggung jawab Bersama tanpa ada pembagian hari sekaligus untuk menanamkan kolaborasi antar siswa dalam kebersihan kelas.

2.    Pembiasaan pemilahan sampah organic dan anorganik.

Sampah dipilah berdasarkan jenisnya agar siswa melatih diri sampah apa saja yang mampu dimanfaatkan kembali dan sampah apa saja yang bisa dijadikan pupuk kompos.

3.    Kegiatan sikat gigi massal setiap sebulan sekali

Kegiatan sikat gigi massal sebagai indicator Kesehatan mulut dan gigi sehingga diharapkan siswa membiasakan diri untuk membersihkan gigi dan mulut setiap hari sehingga terjaga kesehatannya.

4.    Mengecek kebersihan kuku setiap seminggu sekali

Kegiatan ini juga berkaitan dengan kebersihan diri siswa. Mereka dicek kebersihan kukunya setiap seminggu sekali sehingga kebersihan diri siswa terjaga dengan baik.

5.    Pembiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah masuk kelas dengan sabun

Siswa diajak Bersama untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan sabun. Kegiatan ini sekaligus untuk mencegah penularan covid-19.

6.    Penataan lingkungan sekolah, yakni taman sekolah

Taman sekolah ditata sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik dengan cara pengecatan ulang, penataan tanaman, membersihkan taman dari sampah, dan lain-lain.

 




Gambar 2 Proses penataan taman sekolah

 

7.    Kampanye budaya membuang sampah di tempat sampah

Kampanye dilakukan secara menyeluruh melalui sosialisasi pada siswa untuk membuang sampah di tempat sampah. Kegiatan melalui praktik nyata dan mengajak Bersama siswa untuk membersihkan kelas dan lingkungan sekolah serta membuang sampah di tempat sampah.

 

Hasil Aksi Nyata yang dilakukan

Adapun hasil dari aksi nyata yang telah dilaksanakan antara lain

1.    Lingkungan kelas terlihat lebih bersih dan nyaman untuk belajar.

Kebiasaan menjaga kebersihan kelas akan mejadikan kelas lebih segar dan nyaman untuk belajar. Hal ini bisa menambah semangat siswa untuk belajar.

2.    Siswa terbiasa membuang sampah sesuai dengan jenisnya (organic dan anorganik)

Kebiasaan ini memudahkan dalam pengelolaan sampah. Diharapkan sampah akan dimanfaatkan sesuai kebutuhan, baik sebagai barang kerajinan maupun pupuk kompos.

3.    Terjaga Kesehatan mulut dan gigi

Kebiasaan ini akan menjadikan siswa lebih menjaga kebersihan dan Kesehatan gigi mulut sehingga terhindar dari sakit gigi. Apalagi dengan Kesehatan gigi dan mulut siswa yang rentan dengan berbagai makanan yang manis dan rentan merusak gigi.

4.    Tangan dan kuku siswa terlihat lebih bersih dan sehat.

Langkah ini sebagai salah bentuk wujud nyata dalam mencegah penularan Covid-19 melalui kegiatan membersihkan/mencuci tangan dengan sabun. Selain itu, dengan menjaga kebersihan kuku, siswa akan terhindar dari berbagai macam penyakit, seperti cacing, sakit perut, gangguan pencernaan, dan lain-lain.



Gambar 3 Kebiasaan cuci tangan

 

5.    Taman sekolah menjadi lebih bersih, segar dan terlihat menyenangkan.

Taman terlihat lebih rindang dan tampak bersih. Selain itu, taman yang mulanya hanya dibiarkan saja, menjadi terlihat lebih nyaman dipandang mata. Tanaman pun tumbuh lebih segar dibandingkan dengan sebelumnya.

 




Gambar 4 Taman sekolah terlihat sejuk dan indah


6.    Siswa terbiasa membuang sampah di tempat sampah

Kebiasaan membuang sampah sembarangan hilang dengan sendiri seiring dengan kebiasaan membuang sampah di tempat sampah. Hal ini mendorong siswa akan mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan sehat.

 

 

PERASAAN (FEELINGS)

Program SDBS (Sekolah Dasar Bersih dan Sehat) sebagai salah satu program sekolah yang berpihak pada siswa. Melihat pelaksanaan dan hasilnya sangat berpihak pada siswa. Hal ini sebagai langkah sekolah dalam menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sekaligus sebagai Langkah sekolah dalam mewujudkan slogan kabupaten brebes, yakni BERHIAS (Bersih, Hijau, Indah, Aman, dan Sehat). Dengan terwujudnya sekolah yang bersih dan sehat, akan muncul kepuasan kepuasan bagi warga sekolah pada umumnya dan saya selaku guru penggerak pada khususnya. Program SDBS juga mendapat dukungan penuh, baik dari kepala sekolah, rekan guru sejawat, siswa, orang tua siswa, komite sekolah, bahkan lingkungan sekitar sekolah.

 

PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Program SDBS ini sebagai salah satu program yang bisa dilaksanakan oleh tiap sekolah. Hal penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan program adalah dengan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Setiap unsur memiliki peran yang berbeda dan membutuhkan komitmen Bersama dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Jika dalam pendanaan mengalami masalah, bisa dengan mengajak peran serta komite sekolah dan orang tua dalam mengatasi keuangan, seperti sumbangan tanaman dari orang tua siswa.

 

PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring dari pelaksanaan program SDBS di sekolah, maka perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan program agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Rencana perbaikan yang harus programkan adalah membangun komitmen bersama dalam menjaga terlaksananya program SDBS. Jika sebuah program hanya dilaksanakan tanpa ada kebelanjutan menjaganya, maka program itu akan berlangsung sementara. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keberalngsungan program berjalan selamanya. Setiap unsur memiliki peran yang berbeda, sehingga program dapat berlangsung lama.