Wednesday, November 3, 2021

ARTIKEL AKSI NYATA 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


NILAI RAPOT SISWA MINIMAL KKM DAN TIDAK SESUAI KEMAMPUAN SISWA

  1. PERISTIWA (FACT)


Latar Belakang tentang Situasi yang Dihadapi


Di akhir tahun pembelajaran, sekolah biasanya akan menentukan kenaikan setelah dilaksanakan kegiatan PAT (penilaian akhir tahunan). Siswa melaksanakan evaluasi pembelajaran yang diperoleh selama satu tahun pembelajaran. Untuk menentukan kenaikan kelas, guru biasanya akan berpedoman pada KKM yang telah ditentukan sebelumnya di awal tahun pembelajaran. Guru sudah menentukan KKM berdasarkan kemampuan siswa dan aspek penentu lainnya dalam menentukan KKM. Namun, karena mengikuti kebijakan sebuah sistem dan agar terlihat bahwa sekolah mampu memberikan KKM yang tinggi maka berubahlah KKM dari penentuan awalnya.

Permasalahan utama terdapat pada kemampuan siswa yang belum bisa dikatakan tidak mampu untuk diterapkannya KKM yang terlalu tinggi. Ketika dipaksakan KKM yang tinggi, otomatis nilai siswa juga akan mengikuti KKM. Minimal nilai rapot sesuai KKM agar bisa naik kelas. Hal demikian akan menjadi masalah besar yang siswanya dengan kemampuan yang sedang, sehingga mau tidak mau guru harus mengatrol nilai siswa.

Tindakan katrol nilai jika diperhatikan secara seksama adalah sebuah ketidakjujuran dalam Pendidikan. Mengapa? Karena kita membuat laporan yang tidak sesuai dengan keadaan siswa. Bisa dikatakan sebagai pembodohan public. Hal ini berakibat pada menurunnya tingkat kejujuran guru, dan juga menurunkan semangat belajar siswa. Karena dengan kemampuan yang biasa saja, siswa bisa naik kelas dengan nilai yang lumayan bagus. Padahal faktanya nilai pengetahuannya sangat memprihatinkan.


Alasan Mengapa Melakukan Aksi Nyata Tersebut


Pada dasarnya kasus tersebut merupakan sebuah dilema etika yang sungguh luar biasa jika dilihat dari nilai kejujurannya. Namun, faktanya itu adalah hal biasa bagi pendidik karena hampir Sebagian besar mengalami hal serupa sehingga sebagai bentuk loyalitas guru pada kepala sekolah maka ia menuruti apa yang diinginkan pihak sekolah. 

Namun, pada hakikatnya sebuah permasalahan akan lebih baik diselesaikan dengan cara yang baik pula agar terlihat lebih professional dalam menjalani profesinya sebagai guru. Permasalahan nilai katrol untuk memenuhi KKM bisa diselesaikan dengan cara yang lebih unik dan menjadi win win solution bagi pihak-pihak yang berkaitan. Bagaimana caranya? Mari kita kaji untuk pengambilan keputusan yang lebih baik lagi.

  1. Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut? Loyalitas guru pada pimpinan (KS) dan kejujuran

  2. Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ? kepala sekolah, guru, dan pengawas

  3. Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ? kepala sekolah menentukan KKM sesuai arahan dari pengawas sekolah, KKM terlalu tinggi sedangkan kemampuan siswa tergolong rendah, guru dipaksakan agar memberi nilai rapot minimal KKM bagi siswa yg berkemampuan rendah padahal KKM juga terlalu tinggi bagi siswa.

  4. Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut.

  • Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji lega) 

Tidak ada aspek pelanggaran hukum

  • Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi)

Ada, yakni ketidakjujuran dalam penilaian

  • Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi)

Tidak ada

  • Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah anda merasa nyaman?

Ada yang tidak merasa nyaman terkait dengan nilai kejujuran.

  • Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

Akan memberikan nilai sesuai KKM, sesuai dengan arahan/himbauan dari KS dan pengawas

  1. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut?

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

  1. Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai?

Berpikir berbasis peraturan (rule based thinking)

  1. Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?

Siswa akan diberikan remidi dengan soal yang berkategori yang rendah, dan jika memungkinkan memberikan penilaian sesuai kemampuan siswa sehingga ia mencapai KKM.

  1. Apa keputusan yang akan Anda ambil?

Guru akan memberikan nilai sesuai KKM sebagai bentuk loyalitas guru pada kepala sekolah sekaligus melaksanakan tupoksi sebagai guru dalam pembelajaran

  1. Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan!

Guru memang harus memberikan nilai minimal KKM pada rapot murid. Jika hal itu tidak dilakukan, artinya ada yang keliru dalam penilaian. Mengenai KKM yang terlalu tinggi untuk diterapkan di sekolah, itu adalah kebijakan pimpinan sekolah yang harus ditaati guru dan itu merupakan tuntutan/instruksi dari pengawas sekolah.



Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

Guru melakukan pengambilan keputusan melalui 9 langkah sebagai pemimpin pembelajaran. Adapun keputusan akhirnya adalah memberikan nilai rapot pada siswa minimal KKM terutama bagi siswa yang berkemampuan rendah dan naik kelas.


A group of people in a room

Description automatically generated with medium confidence A picture containing indoor, person, laying, bedroom

Description automatically generated

Pembelajaran dan pemberian tugas (remidi) Ketika sebelum pandemic dan masa pandemi


  1. PERASAAN (FEELINGS)


Perasaan saya Ketika mengambil keputusan demikian memang sedikit kurang menerima. Namun, melalui beberapa riset dan masukan dari beberapa rekan sejawat akhirnya menerima keputusan tersebut dengan baik dan ikhlas. Seiring berjalannya waktu, saya merasakan kenyamanan dalam penilaian dengan pemberian remidi yang memudahkan membantu bagi siswa.


  1. PEMBELAJARAN (FINDINGS)


Pembelajaran yang bisa didapat pada kegiatan ini, bahwa dalam memutuskan sebuah keputusan yang optimal memerlukan pertimbangan yang mendetail melalui 9 langkah pengambilan keputusan agar tidak merugikan salah satu pihak. Win win solution perlu dikedepankan dan tidak menggunakan perasaan saja, namun akal pikiran sehat juga diperlukan untuk mendapatkan keputusan yang luar biasa.

Loyalitas sangat baik dikedepankan, namun juga kejujuran perlu dipertimbangkan. Agar keduanya dilaksanakan, alangkah baiknya cari alternatif lain agar mampu dilaksanakan Bersama.


  1. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)


Kedepan bahwa dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin harus mengutamakan 9 langkah dalam memutuskannya. Perhatikan dan cermati dengan baik setiap permasalahan, lakukan uji coba melalui 9 langkah agar mendapatkan hasil keputusan yang baik bagi semua pihak terkait, atau win win solution.


Nurohim, S.Pd.SD

CGP Angkatan 2 Kab. Brebes


Monday, November 1, 2021

AKSI NYATA MODUL 3.3

 


SDBS

SEKOLAH DASAR BERSIH SEHAT

NUROHIM - SDN KALIWLINGI 02

PERISTIWA (FACT)

Latar Belakang Tentang Situasi yang Dihadapi

Kebersihan dan kesahatan lingkungan sekolah merupakan permasalahan klasik yang masih sering dijumpai di berbagai sekolah. Hampir Sebagian besar sekolah mengalami masalah pada kebersihan dan Kesehatan lingkungan sekolah. Penyebabnya pun beraneka ragam, dari kurangnya sarana prasarana kebersihan sampai pada kurangnnya kepedulian dalam kebersihan. Namun, jika diperhatikan dengan seksama bahwa permasalahan kebersihan dan Kesehatan lingkungan sekolah pada dasarnya dapat diselesaikan dengan memaksimalkan asset yang dimiliki oleh sekolah. Oleh karena itu, pada aksi nyata ini kami akan mengangkat tema kebersihan dan kebersihan lingkungan sekolah menjadi sebuah program sekolah sekligus sebagai program guru penggerak dengan nama program SDBS (Sekolah Dasar Bersih Sehat).

 


Gambar 1 Kondisi sekolah yang kumuh

 

Hal yang Dilakukan pada Aksi Nyata Beserta Alasannya

Ada beberapa poin penting yang dilakukan dalam pelaksanaan Program Sekolah Dasar Bersih Sehat (SDBS), antara lain:

1.    Pengecekan kebersihan kelas yang dilakukan oleh guru kelasnya, baik sebelum pembelajaran maupun sesudah pembelajaran.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan. Dengan terjaganya kebersihan kelas, maka siswa dapat belajar tanpa terganggu dengan masalah sampah. Salah satu caranya dengan menghilangkan jadwal piket kelas. Mengapa? Karena justru dengan adanya jadwal piket kelas, maka siswa akan terpaku pada satu hari tertentu saja dalam membersihkan kelas. Akan tetapi dengan dihilangkannya jadwal piket kelas, maka kebersihan kelas akan menjadi tanggung jawab Bersama tanpa ada pembagian hari sekaligus untuk menanamkan kolaborasi antar siswa dalam kebersihan kelas.

2.    Pembiasaan pemilahan sampah organic dan anorganik.

Sampah dipilah berdasarkan jenisnya agar siswa melatih diri sampah apa saja yang mampu dimanfaatkan kembali dan sampah apa saja yang bisa dijadikan pupuk kompos.

3.    Kegiatan sikat gigi massal setiap sebulan sekali

Kegiatan sikat gigi massal sebagai indicator Kesehatan mulut dan gigi sehingga diharapkan siswa membiasakan diri untuk membersihkan gigi dan mulut setiap hari sehingga terjaga kesehatannya.

4.    Mengecek kebersihan kuku setiap seminggu sekali

Kegiatan ini juga berkaitan dengan kebersihan diri siswa. Mereka dicek kebersihan kukunya setiap seminggu sekali sehingga kebersihan diri siswa terjaga dengan baik.

5.    Pembiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah masuk kelas dengan sabun

Siswa diajak Bersama untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan sabun. Kegiatan ini sekaligus untuk mencegah penularan covid-19.

6.    Penataan lingkungan sekolah, yakni taman sekolah

Taman sekolah ditata sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik dengan cara pengecatan ulang, penataan tanaman, membersihkan taman dari sampah, dan lain-lain.

 




Gambar 2 Proses penataan taman sekolah

 

7.    Kampanye budaya membuang sampah di tempat sampah

Kampanye dilakukan secara menyeluruh melalui sosialisasi pada siswa untuk membuang sampah di tempat sampah. Kegiatan melalui praktik nyata dan mengajak Bersama siswa untuk membersihkan kelas dan lingkungan sekolah serta membuang sampah di tempat sampah.

 

Hasil Aksi Nyata yang dilakukan

Adapun hasil dari aksi nyata yang telah dilaksanakan antara lain

1.    Lingkungan kelas terlihat lebih bersih dan nyaman untuk belajar.

Kebiasaan menjaga kebersihan kelas akan mejadikan kelas lebih segar dan nyaman untuk belajar. Hal ini bisa menambah semangat siswa untuk belajar.

2.    Siswa terbiasa membuang sampah sesuai dengan jenisnya (organic dan anorganik)

Kebiasaan ini memudahkan dalam pengelolaan sampah. Diharapkan sampah akan dimanfaatkan sesuai kebutuhan, baik sebagai barang kerajinan maupun pupuk kompos.

3.    Terjaga Kesehatan mulut dan gigi

Kebiasaan ini akan menjadikan siswa lebih menjaga kebersihan dan Kesehatan gigi mulut sehingga terhindar dari sakit gigi. Apalagi dengan Kesehatan gigi dan mulut siswa yang rentan dengan berbagai makanan yang manis dan rentan merusak gigi.

4.    Tangan dan kuku siswa terlihat lebih bersih dan sehat.

Langkah ini sebagai salah bentuk wujud nyata dalam mencegah penularan Covid-19 melalui kegiatan membersihkan/mencuci tangan dengan sabun. Selain itu, dengan menjaga kebersihan kuku, siswa akan terhindar dari berbagai macam penyakit, seperti cacing, sakit perut, gangguan pencernaan, dan lain-lain.



Gambar 3 Kebiasaan cuci tangan

 

5.    Taman sekolah menjadi lebih bersih, segar dan terlihat menyenangkan.

Taman terlihat lebih rindang dan tampak bersih. Selain itu, taman yang mulanya hanya dibiarkan saja, menjadi terlihat lebih nyaman dipandang mata. Tanaman pun tumbuh lebih segar dibandingkan dengan sebelumnya.

 




Gambar 4 Taman sekolah terlihat sejuk dan indah


6.    Siswa terbiasa membuang sampah di tempat sampah

Kebiasaan membuang sampah sembarangan hilang dengan sendiri seiring dengan kebiasaan membuang sampah di tempat sampah. Hal ini mendorong siswa akan mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan sehat.

 

 

PERASAAN (FEELINGS)

Program SDBS (Sekolah Dasar Bersih dan Sehat) sebagai salah satu program sekolah yang berpihak pada siswa. Melihat pelaksanaan dan hasilnya sangat berpihak pada siswa. Hal ini sebagai langkah sekolah dalam menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sekaligus sebagai Langkah sekolah dalam mewujudkan slogan kabupaten brebes, yakni BERHIAS (Bersih, Hijau, Indah, Aman, dan Sehat). Dengan terwujudnya sekolah yang bersih dan sehat, akan muncul kepuasan kepuasan bagi warga sekolah pada umumnya dan saya selaku guru penggerak pada khususnya. Program SDBS juga mendapat dukungan penuh, baik dari kepala sekolah, rekan guru sejawat, siswa, orang tua siswa, komite sekolah, bahkan lingkungan sekitar sekolah.

 

PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Program SDBS ini sebagai salah satu program yang bisa dilaksanakan oleh tiap sekolah. Hal penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan program adalah dengan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Setiap unsur memiliki peran yang berbeda dan membutuhkan komitmen Bersama dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Jika dalam pendanaan mengalami masalah, bisa dengan mengajak peran serta komite sekolah dan orang tua dalam mengatasi keuangan, seperti sumbangan tanaman dari orang tua siswa.

 

PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring dari pelaksanaan program SDBS di sekolah, maka perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan program agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Rencana perbaikan yang harus programkan adalah membangun komitmen bersama dalam menjaga terlaksananya program SDBS. Jika sebuah program hanya dilaksanakan tanpa ada kebelanjutan menjaganya, maka program itu akan berlangsung sementara. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keberalngsungan program berjalan selamanya. Setiap unsur memiliki peran yang berbeda, sehingga program dapat berlangsung lama.

Friday, October 8, 2021

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Sekolah adalah sebuah ekosistem dengan faktor biotik dan abiotik yang ada di dalamnya. Eksosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:


  1. Murid

  2. Kepala Sekolah

  3. Guru

  4. Staf/Tenaga Kependidikan

  5. Pengawas Sekolah

  6. Orang Tua

  7. Masyarakat sekitar sekolah


Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:


  1. Keuangan

  2. Sarana dan prasarana


Pengelolaan sumber daya dapat dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu:


  1. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

  2. Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.


Implementasi di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah

  • Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.

  • Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

  • Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

  • Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

  • Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik. 

  • Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas. 

  • Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan. 

  • Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah. 

  • Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus.

  • Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.


Contoh hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. 


Pengelolaan sumber daya yang terdiri dari sumber daya modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansioal, modal agama dan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kulitas proses pembelajaran. Maka dari itu, pengelolaan harus dilakukan secara tepat. Setiap sumber daya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus bisa mengidentifikasi aset yang dimiliki sebagai kelebihan dari sumber daya, manfaatkan sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin dengan mengesampingkan kekurangan yang ada, fokus pada kekuatan dan dukungan yang dimiliki agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal dan berkualitas.


Beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan materi lain yang didapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.


Modul 1.1 

Ki Hajar Dewantara membedakan kata Pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan tujuan pendidikan. Pengajaran (Onderwijs) adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan bathin. Sedangkan pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Semboyan Pendidikan menurut Kihajar Dewantara adalah "Ing ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Kaitannya dengan pengelolaan sumber daya adalah pemimpin pembelajaran mengelola sumber daya yang ada (siswa) sesuai dengan kodratnya, karena sejatinya setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikan contoh, dorongan dan motivasi dalam pengelolaan sumber daya agar menjadi efektif.


Modul 1.2 

Jika dikaitkan dengan nilai-nilai dan peran guru penggerak, sebagai pemimpin pengelolaan sumber daya harus memiliki nilai positif seperti Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotong royong dan kreatif. 


Modul 1.3 

Pengelolaan sumber daya bisa dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan berbasis aset dan pendekatan berbasis masalah. Sesuai dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) maka prinsip yang digunakan dalam pengelolaan adalah prinsip yang berbasis dengan kekuatan yang dimiliki (aset).  IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan melalui manajemen BAGJA (Buat pertanyaan, Atur ekskusi, Gali mimpi, Jabarkan rencana).


Modul 1.4

Agar pemimpin pembelajaran dapat bersinergis dengan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka budaya positif perlu dilakukan salah satunya adalah budaya positif dalam melakukan kesepakatan kelas. Hal ini dimaksudkan supaya tidak ada lagi pembelajaran yang memberikan hukuman versus hadiah. Pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya bukan sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pengawas melainkan sebagai manajer. Sehinggga bertanya dan membuat kesepakatan kelas, menanyakan harapan, dan apa yang perlu diperbaiki, menumbuhkan disiplin dari dalam diri dan motivasi intrinsik.


Modul 2.1 

Setiap siswa memiliki latar belakarng yang berbeda, memiliki bakat dan minat yang berbeda karena pada hakikatnya siswa  memiliki multiple inteligensi. Sebagai pengelola sumber daya dalam pembelajaran kita harus bisa melayani setiap kebutuhan siswa. hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi  berdasarkan bakat dan minat, kesiapan belajar maupun profil belajar siswa. Adapun startegi yang digunakan adalah strategi proses, strategi konten dan strategi produk. 


Modul 2.2 

Sadari bahwa emosi menentukan bagaimana kita mengambil keputusan. dalam pengelola sumber daya yang ada. Kompetensi Sosial Emosional Casel adalah sebagai berikut:


  1. Kesadaran Diri (Pengenalan Emosi). Kesadaran diri meliputi kemampuan memahami proses belajar dan pemikiran diri, mengembangkan sikap percaya diri dan memahami perasaan, minat, nilai dan kekuatan.

  2. Kesadaran Sosial (Empati). Kesadaran sosial meliputi pemahaman perbedaan perspektif dan berempati, mengenali dan menghargai persamaan maupun perbedaan, memanfaatkan sumber daya di rumah, sekolah dan komunitas secara efektif.

  3. Pengelolaan Diri (Pengelolaan emosi dan fokus). Pengelolaan diri meliputi mengelola stress, mengontrol impuls dan ketekunan dalam menghadapi hambatan, atau sering disebut dengan Mengelola emosi dan fokus).  Stop/ Behenti. Hentikan apapun yang sedang Anda lakukaTake a deep Breath/ Tarik nafas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar. Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda?Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuangnapas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan. Fokus pada pilihan Anda yang terbaik saat ini. Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. 

  4. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Dalam pengambilan keputusan yang bertanggungjawab mempertimbangkan faktor etika, akademik, standard masyarakat  dalam membuat pilihan dan keputusan. Memberikan Kontribusi terhadap perwujudan dan wellbying sekolah dan komunitas.

  5. Ketrampilan Sosial (Resiliensi). Ketrampilan resiliensi meliputi: membangun hubungan yang sehat berlandaskan kerjasama dan sikap hormat. menolak tekanan sosial yang tidak tepat. mencegah dan mengelola serta menyelesaikan konflik. Mencari pertolongan bila membutuhkan.


Modul 2.3 

Coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya,  Sebagai seorang ‘pamong’. Guru dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. 


Pentingnya proses coaching dalam pengelolaan sumber daya yaitu 

  • Proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. 

  • Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi. 

  • Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya.


Ketrampilan Coaching meliputi: 

  1. Keterampilan membangun hubungan baik (kemitraan) 

  2. Keterampilan berkomunikasi 

  3. Keterampilan memfasilitasi pembelajaran.


Modul 3.1 

Proses Coaching bisa dijadikan acuan dalam pengelola sumberdaya untuk melakukan pengambilan keputusan baik yang sifatnya dilema etika maupun bujukan moral. Pengambilan keputusan yang kita ambil jika berpedoman pada 9 langkah dalam mengambil keputusan pemimpin pembelajaran tentu sudah mencerminkan pengajaran yang berpihak pada murid, yang memerdekakan murid, meski dalam praktikknya memilih dilema etika itu sangat sulit.


Jika dalam pengambilan keputusan menggunakan prinsip jangka pendek lawan jangka panjang, tentu ketika kita mengambil keputusan untuk mengorbankan jangka pendek demi keberhasilan di masa depan kehidupan anak-anak, awalnya terkesan kurang adil, namun seiring berjalannya waktu, selain siswa diberikan pemehaman yang sesuai, pengaruh dalam jangka panjang akan tampak berpengaruh positif secara nyata dalam kehidupan anak-anak.


Hubungan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiran yang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.


Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pengelola sumber daya, saya sering berfikir atau bahkan melakukan pengelolaan sumber daya dengan pendekatan masalah. Sehingga yang terfikir adalah sisi negatif dan kelemahan atau kekurangan yang dimiliki dari sumber daya yang ada. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.


Setelah mempelajari modul ini saya baru menyadarai bahwasanya kita sebagai pengelola sumber daya harus bisa memanfaatkan apa yang kita punya sebagai kekuatan. Fokusnya adalah kelebihan yang dimiliki dengan mengesampingkan kekurangan. Menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.


Wednesday, October 6, 2021

3.2.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Refleksi

Modul 3.2. pemimpin dalam sumber daya menyadarkan diri akan jadi diri kita sebagai salah satu asset yang ada di sekolah. Selama ini, kita hanya menggali asset apa yang ada di lingkungan sekitar kita yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan dan memajukan sekolah kita. Padahal kita sendiri adalah asset yang bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas sekolah kita. 

Secara factual kita hanya melihat segala sesuatu yang terjadi dan ada di sekitar kita dari sisi kekurangan dan masalahnya saja, tanpa melihat bahwa dari setiap kekurangan pasti ada kelebihan yang bisa kita manfaatkan. Dari setiap masalah selalu ada potensi yang bisa kita gunakan untuk meredam segala masalah yang ada. Sudah seyogyanya kita sebagai guru yang juga sebagai pemimpin bisa memberdayakan diri kita sendiri dan mengoptimalkan kekuatan/asset yang kita miliki untuk membangun dan menciptakan segala sesuatu yang positif.

Proses pengoptimalisasian dan pemberdayaan segala potensi/asett/modal yang kita miliki untuk membangun kondisi yang lebih ideal sering disebut dengan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA). Pendekatan ini menjadikan individu, komunitas dan social sebagai bagian dari agen perubahan itu sendiri.

Suatu program dikembangkan dengan memfokuskan asset utama apa saja yang ada dan dimiliki suatu komunitas. PKBA sangat cocok diterapkan di sekolah karena Pendekatan ini lebih sederhana dan simple. Pendekatan ini lebih memfokuskan terhadap asset apa yang dapat diberdayakan tidak lagi melihat dan focus terhadap masalah apa yang ada dan telah terjadi. 

Setiap tantangan dan rintangan yang menghadang selalu dihadapi dengan kekuatan dan potensi yang dimiliki masing-masing komunitas/individu/sekolah. sehingga solusi yang didapat akan berlaku secara terus menerus dan berkelanjutan. Sekolah sebagai satu komunitas seyogyanya dapat menerapkan pendekatan ini dalam mencapai tujuan dan cita-cita yang sama.

Dalam menerapkan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) ada beberapa asset yang sering dioptimalkan diantaranya: modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Setelah melakukan pengidentifikasian, berikut adalah asset-aset yang dimiliki SDN Kaliwlingi 02 antara lain:

1. Modal manusia

a.    Guru

  •  Guru Profesional (S1 dan bersertifikasi pendidik)
  • Guru berprestasi tingkat nasional
  • Guru sebagai Instruktur/Trainer
  • Guru kreatif dan inovatif

b.    Tenaga Kependidikan (OPS dan Kebersihan)

c.    Murid (Heterogen dengan berbagai potensi baik akademik maupun non  akademik)

d.    Alumni yang mengabdi di SDN Kaliwlingi 02 Sebagai pendidik

e.    Orang tua dan Komite Yang selalu mendukung kebijakan sekolah dan PBM yang berpihak pada murid

Strategi : 

  1. Mengikuti kegiatan pengembangan diri
  2. Mengikuti perlombaan
  3. Terlibat aktif dalam kegiatan sebagai narasumber
  4. Aktif dalam berorganisasi
  5. Melibatkan murid aktif dalam kegiatan perlombaan
  6. Menjadikan orang tua dan komite sekolah sebagai donator
  7. Melibatkan alumni sebagai simpatisan dan sukarelawan

2. Modal Sosial

  • Tata tertib sekolah untuk menanamkan  kedispilinan
  • PGRI dan KKG
  • Komunitas keagamaan  (Madrasah Diniyah)

Masyarakat sekitar  lingkungan nelayan

Strategi :

Berpartisipasi dalam organisasi profesi sebagai forum untuk berbagi dan peningkatan kompetensi

Penerapan komitmen Bersama dalam menjaga tata tertib sekolah

3. Modal Fisik

  •  Musholla
  • Laboratorium Komputer (Baru 6 unit)
  • Ruang kelas yang menampung semua anak didik  Lapangan Upacara dan Olah Raga
  • Toilet murid, guru, tenaga kependidikan, kepala  sekolah yang terpisah
  • Sumber air / sumur
Strategi : Perawatan sarana dan prasarana sekolah

4. Modal Lingkungan/Alam

  • Udara Masih segar karena berada di  lingkungan pesisir
  • Taman sekolah
  • Halaman luas
  • Sekolah bersih
  • Perikanan

Strategi : Kegiatan kerja bakti sekolah, pengelolaan taman sekolah

5. Modal Finansial

  • Dana Bos
  • Koperasi sekolah, Guru dan siswa
  • Tabungan

Strategi : mengalokasikan anggaran sesuai peruntukan dalam RKAS, menumbuhkan koperasi sekolah

6. Modal Politik

  • Pemerintahan daerah yang proaktif dan responsive kepada sekolah
  • Rapat rutin yang diselenggaran setiap bulan sebagai wadah aspirasi dan  inspirasi setiap warga sekolah
  • Pemerintah pedesaan

Strategi : Sarana belajar, kunjungan, menjalin komunikasi baik dengan pedesaan

7. Modal Agama dan Budaya

  • Lembaga keagamaan (Majlis Taklim, Madrasah)
  • Tokoh agama
  • Perayaan Hari besar Agama
  • Budaya berbagi untuk menumbuhkan empati
  • Budaya 5S

Strategi : mengarahkan murid untuk berpartisipasi dengan kegiatan keagamaan, kegiatan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah, sedekah setiap hari jumat,

Salam Bahagia dan Mereka

Salam Guru Penggerak