AKSI NYATA MODUL 1.2 – NILAI DAN
PERAN GURU PENGGERAK
LATAR BELAKANG
Di
zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mobilitas warga dunia
semakin lebih meningkat. Pertumbuhan mobilitas salah satunya melalui dunia maya
atau fasilitas internet. Bagi kalangan anak mud aini adalah dunia mereka, zaman
mereka yang penuh dengan informasi dan hal bermanfaat lainnya yang bisa diambil
dari internet. Melalui internet, kita bisa belajar berbagai kebudayaan asing
yang dapat kita adopsi menjadi hal baik bagi kita. Namun, ada juga hal
ketidakbaikan yang muncul dari jati diri indentitas anak muda yang sekarang
sedang berkembang. Identitas karakter bangsa sedikit demi sedikit mulai pudar. Salah
satu kebudayaan bangsa Indonesia yang mulai pudar adalah budaya 5S (senyum,
salam, sapa, sopan, dan santun). Ada beberapa factor penyebab pudarnya
identitas karakter bangsa, salah satunya adalah pengaruh negative dari budaya
asing yang tidak tersaring dengan baik.
Melalui
kegiatan guru penggerak, saya selaku calon guru penggerak dari Kabupaten Brebes
membuat program sekolah yang sebetulnya adalah menghidupkan kembali budaya 5S. program
ini bertujuan untuk mengembalikan jati diri siswa kami terutama SDN Kaliwlingi
02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes agar menjadi siswa yang berkarakter unggul
dan mampu membudayakan 5S dalam lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
DESKRIPSI AKSI NYATA
Pelaksanaan
aksi nyatanya sebenarnya sudah diuraikan pada aksi nyata modul 1.1. Sebelum
realisasi program pembiasaan budaya 5S dan nilai religious di sekolah, penulis
menyampaikan maksud tujuan kegiatan tersebut melalui rapat dewan guru. Dukungan
dewan guru sangat diperlukan untuk keberhasilan program. Kegiatan sosialisasi
juga disampaikan pada siswa agar memahami dan mampu membiasakan budaya 5S dalam
kehidupannya baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun warga masyarakat.
Adapun
focus utama kegiatannya antara lain program pembiasaan budaya 5S (senyum,
salam, sapa, sopan, santun). Sedangkan aplikasi penerapan budaya 5S melalui
keteladanan dari guru untuk memberi contoh sekaligus mengajak siswanya untuk melakukan
hal yang sama. Keteladanan yang dilakukan guru akan lebih mudah diterapkan oleh
siswa dibandingkan hanya sekedar menyuruh saja. Keteladanan yang dilakukan
seorang guru kemudian diikuti juga oleh siswa. Setiap sebulan sekali diadakan
evaluasi pelaksanaan program untuk menentukan kelemahan dan kelebihan dalam
pelaksanaan program tersebut.
HASIL AKSI NYATA
Hasil pelaksanaan pembiasaan budaya 5S
cukup bagus, dan sedikit mengalami peningkatan. Mengapa demikian? Pelaksanaan pembiasaan
budaya 5S akan berjalan dengan baik dan maksimal jika dilaksanakan pada proses
pembelajaran tatap muka. Namun, masih menggunakan daring sehingga guru tidak
bisa mengontrol secara langsung perkembangan budaya 5S pada siswa. Guru hanya
bisa melihat perkembangan budaya 5S Ketika kegiatan luring, itupun dilaksanakan
secara terbatas dan masih menjaga prokes. Namun, secara keseluruhan hasil dari
pelaksanaan pembiasaan budaya 5S berkategori baik, karena siswa mulai
menerapkan budaya 5S di lingkungan sekolah dengan baik walaupun pemantauan hanya
beberapa hari dalam seminggu.
PEMBELAJARAN YANG DIDAPAT DARI PELAKSANAAN
(KEGAGALAN MAUPUN KEBERHASILAN)
Kekurangan
pelaksanaan program ini yakni belum dilaksanakan secara maksimal. Selain itu,
kolaboratif pelaksanaan program di kelas lain belum dilaksanakan dengan baik. Oleh
karena itu, dibutuhkan kebersamaan antar warga sekolah terutama guru dan kepala
sekolah untuk berkomitmen mensukseskan program pembiasaan budaya 5S.
Keberhasilan
dari pelaksanaan program ini yakni pelaksanaan di tingkat kelas sudah mampu
menunjukkan hal yang baik. Siswa kelas 6 mulai membiasakan diri untuk
membudayakan 5S dalam lingkungan sekolah. Diharapkan kegiatan ini dilaksanakan
di lingkungan rumah dan masyarakat sebagai perwujudan tindak lanjut pelaksanaan
budaya 5S di sekolah.
RENCANA PERBAIKAN UNTUK PELAKSANAAN DI
MASA MENDATANG
Ada beberapa hal yang harus diperbaiki
terkait dengan pelaksanaan pembiasaan budaya 5S, antara lain. Pertama, peningkatan
pada kolaboratif dan komitmen untuk mensukseskan program pembiasaan budaya 5S
terutama rekan sejawat dan kepala sekolah. Kedua, perlu sosialisasi pada orang
tua siswa untuk mendukung sekaligus memantau pelaksanaan program pembiasaan
budaya 5S di lingkungan rumah dan masyarakat. Ketiga, perlu adanya banner atau poster
di tiap-tiap kelas sebagai pengingat siswa agar mau membiasakan budaya 5S.







