Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi nilai agama dan memiliki kebudayaan yang sangat merekat dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan yang sudah tumbuh dari dahulu sebelum Indonesia merdeka merupakan warisan budaya luhur yang harus kita lestarikan agar terhindar dari kepunahan. Warisan kebudayan luhur bangsa yang menjadi landasan dasar dalam kehidupan sehari-hari termuat dalam rumusan Pancasila. Para tokoh bangsa sangat yakin bahwa Pancasila akan menjadi dasar bagi masyarakat Indonesia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, nilai-nilai luhur warisan budaya bangsa mulai terkikis dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Masyarakat sudah tidak mempedulikan akan hal itu karena menganggapnya tidak penting dalam kehidupannya. Bahkan dalam masyarakat kadang ada yang menganggap bahwa yang diutamakan dalam Pendidikan adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, lunturnya budaya 5S terjadi karena dalam lingkungan keluarga sendiri tidak terjadi pembiasaan dalam budaya 5S. orang tua hanya berfokus bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan sikap dan karakter anaknya. Bahkan beberapa orang tua memberikan semua fasilitas kebutuhan anaknya, namun penanaman karakter budi pekertinya masih nihil. Hal tersebut juga berlangsung di beberapa sekolah, karena mereka hanya mengejar prestasi akademik saja tanpa diimbangi dengan penanaman karakter siswanya.
Tidak hanya pada proses penanaman budi pekerti saja, pada nilai keagamaan juga demikian. Anak masih rendah pada nilai keagamaannya. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih rendahnya anak dalam beribadah, misalnya salat, mengaji, dan sebagainya (bagi umat islam). Hal ini terjadi juga karena belum adanya pembiasaan pada lingkungan keluarga sebagai tempat Pendidikan anak dan lingkungan sekolah sebagai tempat untuk menimba ilmu.
Melihat permasalahan tersebut, pemerintah melalui Kemendikbud akhirnya menyemarakkan program penguatan Pendidikan karakter. Kemudian disempurnakan dengan program profil pelajar Pancasila yang merupakan realisasi dari program sekolah penggerak sekaligus bagian dari program merdeka belajar. Salah satu profil pelajar Pancasila adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Diharapkan dari salah satu profil tersebut adalah pelajar Indonesia memiliki keyakinan dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga memiliki jiwa yang religious. Selain itu, pelajar Indonesia juga memiliki budi pekerti yang luhur yang merupakan warisan budaya luhur bangsa Indonesia.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, penulis memiliki program untuk pembiasaan budaya 5S dan nilai keagamaan di sekolah sebagai realisasi dari salah satu butir profil pelajar Pancasila yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Diharapkan dengan pembiasaan budaya 5S dan penanaman nilai religious di sekolah akan membudaya dalam kehidupan siswa tercipta generasi yang memiliki jiwa religious dan terciptanya generasi yang berkarakter dan berbudi pekerti yang luhur
Deskripsi Aksi Nyata
Sebelum realisasi program pembiasaan budaya 5S dan nilai religious di sekolah, penulis menyampaikan maksud tujuan kegiatan tersebut melalui rapat dewan guru. Dukungan dewan guru sangat diperlukan untuk keberhasilan program. Kegiatan sosialisasi juga disampaikan pada siswa agar memahami dan mampu membiasakan dalam kehidupannya baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun warga masyarakat.
Adapun fokus utama kegiatannya antara lain program pembiasaan budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), pelaksanaan sholat tahajud berjamaah, pelaksanaan salat dhuhur berjamaah, dan kegiatan mengaji surat pendek sebelum mulai pembelajaran.
Adapun aplikasi penerapan budaya 5S melalui keteladanan dari guru untuk memberi contoh sekaligus mengajak siswanya untuk melakukan hal yang sama. Keteladanan yang dilakukan guru akan lebih mudah diterapkan oleh siswa dibandingkan hanya sekedar menyuruh saja. Selain itu, pada pembiasaan sholat dhuha dan dhuhur berjamaah melalui hal yang sama yakni keteladanan dan mengajak ikut serta dalam kegiatan sholat dhuha dan sholat dhuhur. Untuk kegiatan mengaji alqur’an dilaksanakan 5 – 10 menit sebelum permbelajaran dimulai. Kegiatan mengaji Alquran juga sekaligus untuk meningkatkan tingkat literasi membaca siswa.
Tolak Ukur Keberhasilan Program
Indikator keberhasilan program ini dapat dilihat pada keseharian siswa di lingkungan sekolah dan keluarga. Untuk pembiasaan budaya 5S, Jika ia sudah mampu mempraktikkan ketika mereka berpapasan dengan seseorang dimana pun berada, ia akan tersenyum sambil menyapa. Kemudian budaya sopan santun juga sudah tertanam dalam keseharian siswa. Ketika berjalan di depan gurunya, ia akan senyum dan menyapa serta membungkukkan kepala sebagai bentuk sopan santun pada guru.
Untuk kegiatan keagamaan dapat dilihat dari terlaksananya atau tidak kegiatan salat dhuha berjamaah, salat dhuhur berjamaah, dan mengaji surat pendek sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan diawasi dan dilaksanakan oleh guru secara bersama-sama dengan kepala sekolah sebagai pembimbing.
Sebagai bahan revisi program kegiatan, segala kekurangan dan masukan dari berbagai pihak ditampung sebagai sarana untuk menyempurnakan program selanjutnya. Kekurangan dan masukan kemudian dibahas bersama rekan guru lainnya untuk mencari solusinya sehingga diharapkan menghasilkan program yang lebih optimal.







0 comments:
Post a Comment